BEM FKM UJ 2012-2013

my litle family.

Public Health

Prevent, Promote, Protect.

PBL 2013

Pengalaman Belajar Lapangan Kelompok 2 di desa Mojosari, Kecamatan Puger, Jember.

Studi Banding 2013

Studi banding ke UGM bersama UKKI ASH SHIHAH.

UPGRADE Skill

Forum Membahas Izin Operasional Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Jember.

Sunday, 15 June 2014

Darah Mengental Juga Dipicu Kebiasaan "Ngorok"

Kebiasaan mendengkur umumnya merupakan gejala dari kondisi yang lebih parah seperti obstructive sleep apnea (OSA). Diketahui sebelumnya, OSA dapat memicu penurunan fungsi organ yang berujung pada berbagai penyakit. Bahkan keadaan darah yang mudah mengental juga dapat dipicu oleh OSA.

Spesialis THT dari RS Premier Bintaro Ari Cahyono mengatakan, OSA memang dapat berdampak pada hematologi, salah satunya membuat darah lebih mudah mengental. Hal ini dikarenakan pasokan oksigen yang menurun saat napas berhenti di waktu tidur yang terjadi berulang kali.

"Ketika tidur mendengkur, tubuh mengalami hipoksia atau gejala kekurangan oksigen dalam tubuh. Keadaan tersebut juga membuat peningkatan karbondioksida dalam darah," ujarnya saat ditemui dalam diskusi bertajuk "Bahaya Mendengkur dan Penanganannya" pekan lalu di Jakarta.
 Peningkatan kadar karbondioksida, lanjutnya, akan membuat darah mengalami stres oksidatif. Inilah yang membuat darah lebih mudah mengental.

Ari menjelaskan, darah yang mudah mengental akan berisiko menyumbat pembuluh darah. Jika terjadi di pembuluh darah jantung, kondisi tersebut dapat menyebabkan serangan jantung. Sedangkan apabila terjadi di pembuluh darah lainnya, maka akan menyebabkan gagal organ.

"Hipoksia berulang juga secara khusus membuat jantung bekerja lebih berat sehingga lebih berisiko terjadi gangguan ritme detak jantung," paparnya.
Selain itu, keadaan karbondioksida yang tinggi dalam darah juga membuat pembuluh darah rentan rusak. Hal itu pun menjadi faktor risiko dari penyakit jantung.

Pakar kesehatan tidur dari Sleep Clinic RS Premier Bintaro, Lanny S. Tanudjaja mengatakan, semua organ membutuhkan oksigen untuk dapat bekerja dengan baik. Jika dalam waktu lama tidak mendapatkan oksigen yang memadai, kerja organ semakin berat. Dan jika terjadi secara berulang-ulang, fungsi organ pun mengalami penurunan.
"Semua organ bisa mendapatkan dampaknya, dari mulai jantung, otak, ginjal, liver, dan organ-organ lainnya," kata dia.

Thursday, 12 June 2014

Bukan Makanan Manis yang Sebabkan Diabetes


Meski penyakit diabetes atau awam menyebutnya "sakit kencing manis" telah diketahui sejak 1500 SM, hingga saat ini masih banyak orang yang tidak memahami penyakit tersebut. Salah satunya adalah anggapan bahwa diabetes disebabkan hobi mengasup makanan manis.

Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai oleh tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan hormon insulin, zat yang diproduksi oleh kelenjar pankreas dan diperlukan untuk mengubah makanan menjadi energi. 

Menurut dr Rochismandoko, Sp PD, gaya hidup kurang gerak merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. "Kurang olahraga, terlalu banyak duduk, dan pola makan yang salah merupakan penyebab penyakit ini," katanya dalam acara peluncuran aplikasi Dokter Diabetes di Jakarta, Rabu (11/6/2014).

Nafsu makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik pada akhirnya akan menyebabkan kegemukan yang merupakan salah satu pencetus diabetes. 

Meski makanan manis bukanlah penyebab diabetes, pengaturan makan merupakan pilar terpenting dalam pengendalian penyakit ini. Setiap penyandang diabetes harus mau belajar mengenali makanan yang menyebabkan gula darah tinggi dan berusaha menghindarinya. 

Pengaturan makan dimaksudkan agar kita tetap bisa mengonsumsi berbagai variasi makanan yang menyediakan zat gizi penting, tetapi kebutuhannya sesuai sehingga insulin dalam tubuh mencukupi. 

Mereka yang diabetes bisa makan makanan yang sama seperti orang lain, tetapi penting untuk mengawasi jumlahnya. Jika kadar gula darah sudah terlalu tinggi, maka bukan hanya makanan mengandung gula yang perlu dihindari, melainkan terkadang juga lemak dan garam.

Monday, 9 June 2014

Mengapa Masih Lelah walau Tidur Lebih Lama?


Kurang tidur memang bisa membuat kita kelelahan dan sulit berkonsentrasi pada siang hari. Namun, tidur lebih banyak dari biasanya juga akan menyebabkan hal serupa.

Jika Anda tidur lebih lama dari malam sebelumnya, kemungkinan untuk mengalami rasa letih keesokan harinya memang lebih besar. Ini karena tubuh sebenarnya lebih suka konsistensi. Tubuh membutuhkan kita tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya.

Jika biasanya Anda tidur selama delapan jam dan malam ini Anda melanjutkan tidur hingga sembilan jam, maka ritme tersebut akan rusak. Ritme tubuh yang terganggu bisa membuat sistem tubuh jadi berantakan sehingga kita merasa lebih gampang lelah.

Rata-rata siklus tidur adalah sekitar 90 menit, dan seseorang biasanya menghabiskan lima siklus sepanjang malam sehingga totalnya menjadi 7,5 jam. Tentu saja jumlah ini bervariasi pada setiap orang. Jadi, jika Anda menambah ekstra waktu, berarti Anda akan terbangun pada tahapan tidur 3 dan 4, yang mana itu merupakan waktu tidur dalam.

Bangun dalam tahapan tidur itu bukan hanya membuat kita sering pusing dan lemas, melainkan juga membuat kita merasa kehabisan energi sepanjang hari. Selain itu, durasi tidur ternyata tak selalu sebanding dengan kualitas. Pada banyak kasus, kita bisa tidur cukup lama dengan kualitas yang rendah, tetapi terbangun dengan perasaan lelah.

Untuk mengetahui jadwal tidur yang tepat untuk Anda, mulailah dengan mengetahui kapan Anda merasa perlu bangun tidur pada pagi hari dan hitung mundur 7,5 jam. Jumlah waktu tersebut yang diperlukan tubuh untuk mendapatkan lima siklus tidur. Saat bangun, kita pun akan merasa segar dan siap menghadapi hari.

 
Sumber :

Saturday, 7 June 2014

Awas Maut... Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!

Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.

Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

"Aneh, kok begini," batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

"Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin," kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

"Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya," kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. "Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter," ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

"Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya," kata istri saya.

"Enggak, ini aneh. Rumah sakit... ke rumah sakit sekarang," kata saya.

"Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu," jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

"Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini," kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah,feeling saya bilang lain.

"Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung," bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

"Itu taksi," kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

"Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat," ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

"Tuhan... saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati," batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

"Dada sesak, keringat dingin," ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

"Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan," ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

"Habiskan, Pak," ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

"Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya," ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua "pahlawan" saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.

Pembengkakan jantung

Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

"Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok," kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belumngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa....

Wednesday, 4 June 2014

Cegah Penularan MERS Saat Ibadah Umrah



Kita harus mencermati perkembangan penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Arab Saudi saat ini dan mencermati kasus-kasus yang telah tersebar ke beberapa negara. Termasuk beberapa kasus di Indonesia yang diduga MERS.



Terakhir ada satu kasus dari kota Medan yang baru saja pulang umrah yang diduga MERS dengan gejala MERS meninggal kemarin 4 Mei 2014 dan hanya sempat dirawat beberapa jam di RSU Adam Malik. Sampai sejauh ini belum ada obat dan vaksin untuk penyakit MERS ini.


Di Arab saudi sendiri kasus ini yang awalnya terjadi ratusan kilometer dari Riyadh ternyata sudah tersebar ke kota dimana jemaah umrah berada seperti Mekah, Madinah dan Jedah. Bahkan 1 jemaah umrah Mesir meninggal dunia beberapa saat lalu.


Memang saat ini pemerintah Arab Saudi dan pemerintah Indonesia belum memberlakukan travel warning utk para jemaah umrah, walau terdapat pembatasan pemberian visa oleh pemerintah Arab Saudi. Pemerintah Indonesia melalui pernyataan 3 menteri hari ini 5 Mei 2014 yaitu Menteri Agama, Menko Kesra dan Menkes menyampaikan bahwa pemerintah tetap memberangkatkan jemaah umrah dan haji tahun ini.

Melihat perkembangan saat ini, dimana sudah ada jemaah umrah yang terkena infeksi MERS, cepat atau lambat akan ada jemaah Indonesia yang positif tertular mengingat jamaah umrah Indonesia merupakan jemaah terbesar di tanah suci.


Sebagaimana kita ketahui infeksi MERS disebabkan oleh virus korona yang menyerang saluran pernafasan bawah (paru). Pasien yang mengalami infeksi ini akan mengalami demam tinggi, batuk dan sesak nafas. Pada paru terjadi radang paru akut (Pneumonia) dan mudah terjadi komplikasi pada ginjal sampai gagal ginjal. Angka kematian cukup tinggi, sampai saat ini hampir 25 % kasus meninggal.

Mengingat kasus yang ditemukan sudah terjadi pada jemaah umrah ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para calon jemaah umrah dan petugas kesehatan yang kebetulan menangani infeksi yang terjadi pada pasien yang baru pulang umroh.


Untuk para jemaah umrah:
1. Bagi orang usia lanjut diatas 60 tahun dengan penyakit kronis dianjurkan tidak berangkat.
2. Bagi jemaah dengan penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) juga dianjurkan untuk tidak berangkat.
3. Sebaiknya jemaah yang akan berangkat dalam keadaan sehat dan tidak sedang mengalami infeksi.
4. Selama berada di Arab Saudi terutama jika sedang berada kerumunan sebaiknya selalu menggunakan masker terutama masker N95. Masker ini untuk orang sehat dan bertujuan untuk mencegah terhirup virus dan partikel halus.
5. Selalu mencuci tangan pakai sabun baik sebelum dan sesudah makan dan selalu kontak dengan sesuatu yang juga disentuh oleh orang lain.
5. Tetap makan dan minum cukup.
6.Konsumsi buah dan sayuran.
7. Usahakan tetap tidur cukup minimal 6 jam dalam 24 jam selama berada di tanah suci.
8. Menghindari makanan dan minuman yang manis, gorengan dan minuman yang dingin.
9. Jika demam dan batuk saat di Arab Saudi atau setelah pulang umrah segera datang berobat ke RS.


Secara khusus bagi petugas kesehatan di Indonesia untuk mencurigai MERS pada masyarakat yang mengalami demam, batuk dan sesak sepulang dari umrah atau baru datang dari Arab Saudi misal sebagai tenaga kerja.


Waspada selalu dan tetap beribadah umrah dengan nyaman.

Salam sehat,

Dr.Ari F Syam
Mantan petugas kesehatan Haji Reguler dan ONH Plus.